Text
Kapak
Yowero, bayi kecil itu, seperti halnya bayi-bayi yang lain, tumbuh di dalam hutan belukar, di antara duri-duri sagu, lumpur, satwa liar, kesunyian, dan tetes air hujan. Ia menjadi dewasa bukan hanya dalam kasih sayang si ibu, tapi juga dengan kekerasan yang menjadi satu-satunya pilihan sebaagi satu-satunya strategi pertahanan. Gizi yang tak pernah mencukupi bagi pertumbuhan menyebabkan postur tubuh Yuwero lebih kecil dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Waktu membawa perjalanan hidup anak Asmat ini, melampaui hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, hingga akhirnya ia tumbuh menjadi anak-anak dengan tubuh kecil dan tulang belulang menonjol.
No other version available